Ramadan Momentum Evaluasi Pola Pendidikan dan Penguatan Karakter Siswa

Ramadan Momentum Evaluasi Pola Pendidikan dan Penguatan Karakter Siswa

Senin, 09/02/2026 13:14 WIB

Ramadan Momentum Evaluasi Pola Pendidikan dan Penguatan Karakter Siswa Anggota Komisi X DPR RI, Andi Muawiyah Ramly (foto: istimewa)

PKBNEWS - Anggota Komisi X DPR RI, Andi Muawiyah Ramly, yang akrab disapa Amure, menegaskan bahwa bulan suci Ramadan harus dimanfaatkan sebagai momentum penting untuk melakukan evaluasi dan perbaikan pola pendidikan nasional, khususnya dalam aspek pembentukan karakter peserta didik.

Menurut Amure, penyesuaian pembelajaran selama Ramadan tidak boleh dimaknai sebatas pengurangan jam belajar, melainkan sebagai kesempatan strategis untuk mengembalikan ruh pendidikan sebagai proses pembentukan nilai, etika, dan kemanusiaan.

“Ramadan jangan hanya dipahami sebagai perubahan jadwal sekolah. Ini momentum refleksi bersama untuk memperbaiki orientasi pendidikan kita yang selama ini terlalu menekankan aspek kognitif, tetapi kurang serius membangun karakter, etika, dan empati,” ujar Amure di Jakarta, Senin (9/2/2026).

Pendiri Partai Kebangkitam Bangsa (PKB) itu menjelaskan bahwa pola pendidikan selama Ramadan idealnya disusun dengan pendekatan yang lebih adaptif dan bermakna, antara lain melalui penyesuaian pembelajaran yang berorientasi nilai, penguatan pendidikan karakter, dan pembiasaan sikap dan keteladanan.

“Pendidikan itu bukan hanya soal apa yang diajarkan di kelas, tetapi apa yang dibiasakan. Ramadan memberi ruang yang sangat kuat untuk membangun pembiasaan baik jika dikelola dengan serius,” tegasnya.

Lebih lanjut, Amure menilai bahwa sistem pendidikan pesantren dapat menjadi rujukan penting dalam penguatan karakter di sekolah formal. Pesantren, menurutnya, berhasil membangun karakter santri karena nilai-nilai pendidikan tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan dalam keseharian.

Ia menambahkan bahwa pendidikan karakter di pesantren berjalan secara menyeluruh selama 24 jam, sementara sekolah formal masih cenderung membatasi pendidikan pada jam pelajaran.

Karena itu, Amure mengingatkan bahwa berbagai kasus kekerasan, konflik, dan degradasi etika di lingkungan pendidikan harus menjadi alarm serius bagi semua pihak.

“Ketika kita melihat relasi guru dan murid yang kehilangan rasa hormat, itu pertanda ada yang keliru dalam sistem pendidikan kita. Pendidikan seharusnya memanusiakan manusia, bukan sekadar mencetak lulusan,” ujarnya.

Sebagai Anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, Amure menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kebijakan pendidikan yang menempatkan karakter sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia.

“Kita butuh pendidikan yang melahirkan generasi cerdas secara intelektual sekaligus matang secara moral dan sosial. Ramadan harus menjadi pintu masuk untuk memperkuat arah kebijakan pendidikan ke sana,” pungkas Amure.

TAG: